suatu saat di sore hari. waktu itu sekitar tahun 1999. aku anggota latsar angkatan 66. pertama kali membuat jurus dasar, tak ada niat apa apa, kecuali rasa ingin dan ikhlas menguasai ilmu beladiri ala STI. sebelum latsar aku bertanya pada teman yang mengajak aku masuk jadi anggota STI, begini, "Bisa ngga ? ntar latsarnya aku jalani selama sehari ?". Teman aku itu tersenyum, lalu jawabnya, "Ya kalo mampu, bisa saja. coba saja ntar kuat ndak".
Akhirnya beberapa jurus bisa aku lalui, ketika hendak masuk ke satu jurus tertentu, tiba-tiba aku mencium bau kemenyan dibakar amat menyengat. Meski heran, aku tetep diam. Sambil berpikir, apa mungkin di sore hari di lingkungan Gedongkuning ada orang yang bakar kemenyan? Tapi akhirnya aku tak peduli, tetap mengikuti perintah melakukan gerakan jurus selanjutnya. Baru memasuki beberapa putaran aku merasa mual dan kehilangan keseimbangan. Tiba-tiba aku muntah. Aku terhuyung. Perut serasa diaduk aduk. Badan gemetar makin lemah. Beberapa kali aku muntah. Tubuh makin tak berdaya. Aku tak bisa melanjutkan ke gerakan jurus selanjutnya. Berhenti sampai di situ. Terus muntah dan mual. Bahkan aku berasa ingin buang air besar. Kuberanikan meminta ijin pada Guru Pembimbing. Aku dianjurkan pergi ke masjid yang letaknya sebelah barat Padepokan kira kira berjarak lebih kurang 500m. Dengan badan lemah aku paksakan bertahan dan berjalan menuju masjid. Lama sekali aku buang air besar di kamar kecil masjid. Sampai akhirnya aku dijemput dengan memakai motor si pitung oleh salah seorang Guru Pembimbing, orang itu adalah Mas Wakhid yang rambutnya ikal panjang suka dikuncir ekor kuda. Sampai kembali ke Padepokan, badan makin lama makin lemah, gemetar. Akhirnya aku menggigil. Seluruh teman latihan sudah bubar karena waktu sudah hampir maghrib. Aku masih tertahan di situ, di padepokan dengan beberapa pembimbing yang menjagaku. Badanku makin menggigil. Serasa ditusuk tusuk rasa dingin dan beku luar biasa. Seolah olah aku dipukuli oleh ribuan rasa dingin dengan terpaan angin yang menyambar nyambar. Aku makin tak berdaya tergeletak di ruang padepokan. Kedinginan tiada ampun. Perut terus serasa diaduk aduk tak karuan. Tanganku menyilang di dada menahan rasa beku tanpa ampun. Hanya mulutku yang terus menyuarakan "Allah....Allah...Allah...." terusss... tanpa henti. Seperti orang mati. Aku pasrah dan ikhlas. Sampai akhirnya aku mencoba berpikir realistis bahwa aku saat itu cuma kena masuk angin. Maka aku meminta reumasson pada pembimbing yang ada di ruangan itu. Seingatku Mas Kasno yang ngasih. Lalu diletakan di samping tempat aku tergeletak tak berdaya. Dengan sekuat tenaga aku mencoba bangkit untuk duduk. Mencoba mengambil reumasson untuk aku gosokkan ke perut supaya rasa mual dan dingin itu berhenti. Dan..... aku bisa bangkit duduk!...tapi yang terjadi perutku serasa berubah seperti ember yang tertumpah. Aku kembali muntah. Seolah olah seluruh isi perut keluar tanpa sisa sama sekali. Dan itu terjadi di dalam ruangan padepokan yang menjadi satu dengan tempat tinggal Abang waktu itu. Setengah mati aku menjalaninya. Serasa abis sisa sisa kekuatan tubuhku. Seolah hilang tulang sungsumku. Lemah tak berdaya. Bahkan sampai melewati batas Shalat Isya'.
Akhirnya, sekarang aku tau bahwa kejadian waktu itu, tidak lain dikarenakan aku pernah mempelajari ilmu syirik dan musyrik. Ilmu kejawen yang harus memakai sesajen dan bakar kemenyan. Bahkan pesan guru yang dulu, kalau aku merasa lemah aku diharuskan ngemil kemenyan!
Alhamdulillah, dengan STI akhirnya semua ilmu itu hilang pergi.
Akhirnya beberapa jurus bisa aku lalui, ketika hendak masuk ke satu jurus tertentu, tiba-tiba aku mencium bau kemenyan dibakar amat menyengat. Meski heran, aku tetep diam. Sambil berpikir, apa mungkin di sore hari di lingkungan Gedongkuning ada orang yang bakar kemenyan? Tapi akhirnya aku tak peduli, tetap mengikuti perintah melakukan gerakan jurus selanjutnya. Baru memasuki beberapa putaran aku merasa mual dan kehilangan keseimbangan. Tiba-tiba aku muntah. Aku terhuyung. Perut serasa diaduk aduk. Badan gemetar makin lemah. Beberapa kali aku muntah. Tubuh makin tak berdaya. Aku tak bisa melanjutkan ke gerakan jurus selanjutnya. Berhenti sampai di situ. Terus muntah dan mual. Bahkan aku berasa ingin buang air besar. Kuberanikan meminta ijin pada Guru Pembimbing. Aku dianjurkan pergi ke masjid yang letaknya sebelah barat Padepokan kira kira berjarak lebih kurang 500m. Dengan badan lemah aku paksakan bertahan dan berjalan menuju masjid. Lama sekali aku buang air besar di kamar kecil masjid. Sampai akhirnya aku dijemput dengan memakai motor si pitung oleh salah seorang Guru Pembimbing, orang itu adalah Mas Wakhid yang rambutnya ikal panjang suka dikuncir ekor kuda. Sampai kembali ke Padepokan, badan makin lama makin lemah, gemetar. Akhirnya aku menggigil. Seluruh teman latihan sudah bubar karena waktu sudah hampir maghrib. Aku masih tertahan di situ, di padepokan dengan beberapa pembimbing yang menjagaku. Badanku makin menggigil. Serasa ditusuk tusuk rasa dingin dan beku luar biasa. Seolah olah aku dipukuli oleh ribuan rasa dingin dengan terpaan angin yang menyambar nyambar. Aku makin tak berdaya tergeletak di ruang padepokan. Kedinginan tiada ampun. Perut terus serasa diaduk aduk tak karuan. Tanganku menyilang di dada menahan rasa beku tanpa ampun. Hanya mulutku yang terus menyuarakan "Allah....Allah...Allah...." terusss... tanpa henti. Seperti orang mati. Aku pasrah dan ikhlas. Sampai akhirnya aku mencoba berpikir realistis bahwa aku saat itu cuma kena masuk angin. Maka aku meminta reumasson pada pembimbing yang ada di ruangan itu. Seingatku Mas Kasno yang ngasih. Lalu diletakan di samping tempat aku tergeletak tak berdaya. Dengan sekuat tenaga aku mencoba bangkit untuk duduk. Mencoba mengambil reumasson untuk aku gosokkan ke perut supaya rasa mual dan dingin itu berhenti. Dan..... aku bisa bangkit duduk!...tapi yang terjadi perutku serasa berubah seperti ember yang tertumpah. Aku kembali muntah. Seolah olah seluruh isi perut keluar tanpa sisa sama sekali. Dan itu terjadi di dalam ruangan padepokan yang menjadi satu dengan tempat tinggal Abang waktu itu. Setengah mati aku menjalaninya. Serasa abis sisa sisa kekuatan tubuhku. Seolah hilang tulang sungsumku. Lemah tak berdaya. Bahkan sampai melewati batas Shalat Isya'.
Akhirnya, sekarang aku tau bahwa kejadian waktu itu, tidak lain dikarenakan aku pernah mempelajari ilmu syirik dan musyrik. Ilmu kejawen yang harus memakai sesajen dan bakar kemenyan. Bahkan pesan guru yang dulu, kalau aku merasa lemah aku diharuskan ngemil kemenyan!
Alhamdulillah, dengan STI akhirnya semua ilmu itu hilang pergi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar